Creative Writing - The Girl and The Forest Guard (Indonesia Version)

Cerita ini diunggah untuk memenuhi Ujian Tengah Semester mata kuliah Creative Writing
Nama: Siti Rinita Maharani
NIM: 2330911002
---

Suara gemerisik daun yang bergesekan diterpa angin berhasil membuatku bergidik. Selain dari suara langkah kakiku yang menginjak daun-daun kering, sesekali aku mendengar lolongan anjing—yang kuharap berada jauh dariku. Aku menarik napas berusaha menenangkan detak jantungku yang berdegup kencang. Namun, rasanya hal itu sia-sia.

Damn it.

Aku merutuki kebodohanku. Seharusnya aku diam dan menunggu Ayah di rumah, bukan menyusulnya ke hutan. Ayah bilang Ayah akan menemui beberapa rekannya di sana, tapi alih-alih menemukan Ayah, aku malah semakin tersesat di hutan. Aku hanya bisa berharap kalau aku tidak memasuki area Hutan Larangan tanpa sengaja.

Sepertinya hari ini memang hari sialku. Sudah hampir satu jam aku berjalan mencari jalan keluar dari hutan ini. Sayangnya, alih-alih menemukan jalan kembali ke desa, aku malah harus berhadapan dengan seekor anjing hutan yang tiba-tiba menghalangi jalanku.

Anjing itu kurus, berbading terbalik dengan tubuhnya yang hampir setengah ukuran badanku. Anjing itu menggeram, sorotan matanya yang penuh dengan nafsu serasa mengoyak tubuhku. Lidahnya terjulur keluar, bersamaan dengan liur yang terus menetes dari ujung mulutnya. Selangkah demi selangkah, hewan itu berjalan mendekatiku.

Susah payah aku menelan ludah. Aku mengambil satu langkah mundur setiap anjing itu terus berjalan mendekat. Jika aku lari, aku yakin anjing itu dapat mengejarku dengan mudah. Lagipula, saat ini tubuhku tidak bisa diajak bekerja sama. Tubuhku dibanjiri keringat dan jantungku terus berdetak hebat, rasanya aku bisa tumbang hanya karena tiupan angin.

Kelihatannya anjing itu benar-benar tidak ingin melepaskanku. Untungnya, sebelum anjing itu benar-benar menghampiriku, terdengar suara yang berhasil mengalihkan perhatiannya.

Indit.

Tatapan penuh nafsu yang dilontarkan anjing itu tiba-tiba menguap, hilang tak berbekas. Anjing yang semula menggeram padaku kini menundukkan kepalanya dengan tubuh gemetar. Hanya dengan satu kata yang terdengar asing di telingaku, berhasil merubah sikap anjing itu 180 derajat.

Tak lama kemudian, anjing itu berbalik pergi, berlari sekencang yang ia bisa hingga hilang di balik pepohonan. Kini tubuhku benar-benar jatuh beradu dengan tanah. Aku menghembuskan napas, nasib baik masih berpihak padaku rupanya. Perlahan, rasa lega membasuh cemas yang semula menyelimuti tubuhku.

Suara daun kering yang terinjak kembali membuatku waspada. Benar, tadi ada seseorang yang menolongku. Aku tidak benar-benar mengerti apa yang orang itu katakan, namun berkat dia aku berhasil lolos dari anjing itu. Aku melemparkan pandangan ke sumber suara, ingin berterimakasih pada siapa pun yang barusan menolongku.

"Thank y—"

Ucapan terimakasihku menggantung di udara. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang aku lihat. Jantungku kembali berdetak cepat seakan ingin meledak. Napasku tercekat di tenggorokan. Tubuhku kaku, tidak bisa digerakkan sedikitpun.

Hanya berjarak beberapa langkah dariku, ada seorang lelaki dewasa berdiri gagah membelakangiku. Sepintas orang itu terlihat normal-normal saja seperti orang pada umumnya. Namun, penampilan orang itu jauh dari kata normal. Alih-alih kepala manusia, orang itu memiliki kepala anjing dengan proporsi tubuh manusia. 

"Are you lost, little one?

*** 

***

Gedung-gedung pencakar langit lama-kelamaan tergantikan oleh bangunan-bangunan yang lebih sederhana. Jalanan yang semula bisa dilewati oleh dua atau tiga kendaraan sekaligus kini hanya bisa dilewati oleh satu kendaraan. Jalanan aspal yang landai sedikit demi sedikit berubah menjadi jalanan tanah berbatu dengan pepohonan tinggi besar di sepanjang sisi jalan.

Sejauh mata memandang, aku hanya bisa melihat pohon-pohon besar dan satu atau dua rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Jalanan kosong melompong, hanya ada kendaraan yang aku ditumpangi menyusuri jalanan ini. Tubuhku tergoncang di dalam mobil akibat jalanan yang tidak rata, berhasil mengocok perutku yang hanya kuganjal dengan roti dan susu sebelum berangkat.

Dad, is it still far?

Suaraku memecah keheningan di dalam mobil yang hanya ditumpangi oleh dua orang, aku dan ayahku. Ayah sempat melirikku yang duduk di bangku penumpang sebelum kembali fokus ke jalanan.

Ayah membetulkan posisi kacamatanya, “We'll be there soon.”

Aku menghela napas, Ayah juga mengatakan hal yang sama 30 menit yang lalu. Aku membuang muka, memandang ke luar jendela. Payah, kenapa kami harus pindah ke tempat seperti ini?

Ayah bilang padaku kalau ia dipindahtugaskan ke lokasi lain oleh atasannya. Ayahku bekerja di sektor pemerintahan, jadi ini bukan perkara baru bagiku. Kami memang sering berpindah-pindah rumah untuk menyesuaikan dengan tuntutan pekerjaan Ayah. Namun, ini pertama kalinya kami pindah ke pemukiman yang terletak jauh dari keramaian kota. Ralat, bukan hanya jauh dari pusat kota, lokasi tempat tinggal kami yang baru berada di tengah hutan.

Aku sempat melayangkan protes keras pada Ayah, yang tentu saja berakhir sia-sia. Ayah bilang kami akan menetap di sini hanya untuk satu bulan. Setelah itu, kami akan kembali ke rumah kami yang semula.

Mobil yang semula berguncang kini melaju dengan tenang. Jalanan berbatu tadi tergantikan dengan jalanan tanah yang rata sekaligus menerbangkan debu. Tidak ada lagi pohon-pohon tinggi, hanya ada rumah panggung yang berderet di sisi kanan dan kiri jalan. Ayah terus melajukan mobil hingga kami sampai di sebuah tempat bertuliskan “Balai Desa Damai”.

Tidak seperti rumah-rumah lain yang bermodelkan rumah panggung, balai desa berdiri tegak langsung di atas tanah, seperti bangunan pada umumnya. Kami disambut oleh beberapa orang berpakaian rapi di depan balai desa. Ayah memarkirkan mobil dan mematikan mesin sebelum akhirnya turun dan menyapa orang-orang itu.

"Selamat datang di desa kami, Pak Wirawan.”

Seorang pria paruh baya dengan kemeja rapi menjadi orang pertama yang menyapa Ayah. Ayah bersalaman dengan orang itu, dilanjut ke orang-orang di sebelahnya. Aku hanya tersenyum pada orang-orang itu dan menjaga jarak, tidak ikut menyalami mereka seperti Ayah. Sebuah usaha yang sia-sia karena Ayah mengisyaratkan untuk mendekat dan menyalami mereka.

“Putri Anda, Pak Wirawan?” tanya salah seorang dari mereka.

Ayah mengangguk, “Putri saya satu-satunya, namanya Kinanti. Tahun ini ia berusia 17 tahun.”

“Cantik sekali.”

Aku tersenyum canggung saat bersalaman dengan orang-orang itu. Aku bergegas menghampiri Ayah begitu selesai bersalaman, menyembunyikan diriku di balik tubuh Ayah.

“Nama saya Subagyo, kepala desa di desa Damai.” Pria paruh baya itu bertubuh tegap dengan perut yang sedikit menonjol keluar, ia merangkul wanita paruh baya yang berdiri di sebelahnya, “Ini istri saya, Nimas.”

Pak Subagyo terus memperkenalkan orang-orang yang menyambut kami. Namun, mataku hanya terpaku pada satu orang yang berpenampilan paling unik di antara mereka. Seorang kakek dengan rambut dan janggut panjang yang sudah beruban dimakan usia. Ia memakai penutup kepala berupa kain batik dan pakaian berwarna gelap. Ada keris yang terikat di pinggangnya dan ia bertelanjang kaki.

Kemudian Pak Subagyo memperkenalkan kakek itu sebagai Kakek Darmo, seorang tetua adat di Desa Damai. Pak Subagyo menjelaskan bahwa di desa ini memang masih melekat adat yang kental. Desa Damai sering mengadakan upacara adat yang biasa dipimpin langsung oleh Kakek Darmo dan Pak Subagyo berharap kami bisa ikut berpartisipasi selama kami tinggal di sini.

Aku tak sengaja melakukan kontak mata dengan Kakek Darmo. Aku tersenyum canggung sementara Kakek Darmo malah membuang muka, tidak membalas senyumanku. Ya sudahlah, setidaknya aku sudah mencoba untuk beramah-tamah sebagai pendatang di sini.

Setelah acara penyambutan sederhana tersebut, Pak Subagyo mengantar aku dan Ayah ke sebuah rumah yang terletak persis di sebelah Balai Desa. Rumah itu sama seperti rumah-rumah lainnya di desa ini, hanya saja ukurannya lebih kecil. Rumah panggung itu berdiri setidaknya 1,5 m dari atas tanah, menyisakan lahan kosong di bawah rumah.

“Pak Wirawan bisa menempati rumah ini selama tinggal di desa kami. Rumah ini memang dikhususkan untuk ditempati oleh tamu yang berkunjung ke sini. Saya harap Pak Wirawan berkenan dengan tempat yang kami sediakan.”

Aku memandang rumah panggung itu selagi mendengarkan penjelasan dari Pak Subagyo. Rumah panggung itu terbuat dari kayu dengan atap yang terbuat dari genteng. Di bagian depan serta kanan dan kiri rumah terdapat jendela yang cukup besar untuk ventilasi dan pencahayaan alami. Ada teras kecil di bagian depan yang terhubung langsung dengan tangga untuk naik dan turun.

“Terima kasih banyak, Pak. Tentu saja kami sangat berkenan dengan tempat yang Bapak sediakan.” Ujar Ayah.

“Sama-sama,” balas Pak Subagyo. “Mari saya bantu bawakan barang-barang Anda.”

Ayah kembali ke Balai Desa untuk mengambil barang bawaan kami yang ada di mobil. Pak Subagyo dan beberapa warga yang masih ada di sekitar Balai Desa juga ikut membantu Ayah. Sementara itu, aku tidak diizinkan untuk ikut membantu. Ayah menyuruhku untuk tetap diam di dekat rumah dan aku hanya bisa menuruti perkataan Ayah.

Aku menyapukan pandangan ke sekitar rumah. Jarak antar rumah di sini tidak terlalu jauh, cenderung rapat. Rumah-rumah lain terlihat lebih besar daripada rumah yang aku tempati. Aku menghela napas, aku tidak bisa protes soal itu.

Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki keluar dari salah satu rumah. Kami tak sengaja melakukan kontak mata kemudian anak laki-laki itu menuruni tangga rumahnya dengan terburu-buru. Ia berlari cepat menuju ke arahku. Begitu ia sampai, ia membungkuk dengan kedua tangan memegang lutut dan napas yang terengah-engah.

“Hah…hah…kamu pasti tamu dari kota itu, kan?”

Aku tidak menyangka dia melesat ke arahku hanya untuk memastikan hal itu. Aku hanya mengangguk, terlalu terkejut untuk membalas karena kehadirannya yang tiba-tiba sudah berada di hadapanku.

Anak laki-laki itu sibuk mengatur napas dan aku hanya diam tanpa kata. Dia memiliki rambut hitam yang gondrong, bahkan poninya berhasil menutupi matanya. Tubuhnya tegap dengan warna kulit kecoklatan. Ia sedikit lebih tinggi dari aku. Kelihatannya usia kami tidak terpaut jauh.

Anak laki-laki itu berdiri tegap setelah berhasil mengatur napas. Ia mengusap rambutnya ke belakang sehingga kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia memiliki mata berwarna cokelat yang kelihatan terang di bawah sinar matahari. Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum ke padaku, “I’m Adya.”

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya menjabat tangan Adya, “My name is Kinanti, nice to meet you.”

Tak lama kemudian. Ayah dan Pak Subagyo beserta beberapa warga lain kembali ke rumah dengan barang bawaan yang diambil dari mobil. Adya melambai pada mereka dan ikut membantu membawakan barang-barang ke dalam rumah. Ayah menghampiriku setelah selesai mengangkut semua barang.

It looks like you already make a friend, isn’t it?”

Aku menghela napas, “Well, you can say so.

We will stay here for a while, you need a friend so you won’t get bored,” Ayah merangkulku sambil mengusap bahuku.

Ayah selalu bilang begitu setiap kami pindah ke tempat baru. Aku capek dipaksa untuk menyesuaikan diri terus-menerus di tempat baru. Saat aku berhasil menyesuaikan diri dan merasa nyaman, Ayah pasti akan dipindahtugaskan ke tempat lain. Hal itulah yang membuat aku tidak pernah benar-benar mempunyai teman. Aku muak berhadapan dengan siklus yang sama secara berulang-ulang.

“Kamu sudah berkenalan dengan anakku, Kinanti?”

Pak Subagyo menghampiri aku dan Ayah sambil merangkul Adya. Alisku terangkat begitu mendengar informasi tersebut. Ayah menjadi orang pertama yang menyahut, “Putra Anda, Pak Subagyo?”

Pak Subagyo mengangguk, begitu pula Adya yang tersenyum lebar. Ayah melirik ke arahku, ujung bibirnya terangkat. “Kalau begitu, maukah kamu mengajak Kinanti jalan-jalan berkeliling desa?”

Mataku melotot seketika dan aku segera menarik ujung baju Ayah. Ayah menatap lurus pada Adya, tidak melirik sedikit pun ke arahku. Adya mengangguk, ia tersenyum lebar sampai matanya hanya terlihat seperti garis. Aku mencubit pinggang Ayah dan berhasil membuatnya meringis. Namun Ayah malah mendorongku pelan ke arah Adya.

Come on, Kinanti!”

Adya langsung menarik tanganku tanpa mau repot-repot menunggu jawaban dariku. Ia berlari membawaku pergi menjauhi halaman rumah. Aku menoleh ke belakang, Ayah melambai padaku sambil tersenyum, begitu pula dengan Pak Subagyo. Duh, dasar bapak-bapak ini…

Setelah berlari cukup jauh dari rumahku, Adya melepaskan genggaman tangannya. Ia menarik napas sejenak sebelum melirik ke arahku. “Maaf, aku terlalu bersemangat ya?”

“Kurasa begitu,” balasku singkat.

Adya membawaku ke sebuah lapangan kosong yang cukup luas, sangat cocok untuk dijadikan tempat bermain sepak bola. Lapangan ini terletak di ujung pemukiman warga, meski begitu aku masih bisa melihat beberapa rumah dari sini. Lapangan ini dikeliling oleh pohon-pohon tinggi, berbatasan langsung dengan hutan.

“Ini adalah batas akhir desa kami.”

Sebelah alisku terangkat, “Oh, hanya sampai sini?”

“Desa kami memang tidak terlalu luas.”

Aku mengangguk paham. Hening menyelimuti kami untuk beberapa saat sampai akhirnya aku yang pertama angkat bicara. “Aku penasaran, bagaimana warga di sini bertahan hidup?”

“Well, warga kami memanfaatkan hasil bumi dari hutan,” Adya tersenyum bangga. “Buah, sayur, daging, kayu bakar dan lain-lain. Hidup kami sangat bergantung pada hutan.”

Oh, so you often go to that forest?” Aku menunjuk pepohonan lebat yang ada di ujung lapangan.

Tiba-tiba Adya menepis tanganku yang menunjuk ke arah hutan. Senyuman yang semula terukir di wajahnya telah sirna, matanya menatap tajam ke arahku. Dahiku mengkerut, terkejut dengan perubahan sikap Adya.

What the heck, Adya?!”

Sorry, I didn’t mean to harm you,” Adya menghela napas, ia mengusap wajahnya. “It just…you can’t do that.

Sebelah alisku kembali terangkat, “Do what?”

Adya mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik, “You can’t pointing your hand to The Forbidden Forest! The Aul will get mad.

Aku melangkah mundur. “And…what does that mean?”

Wajah Adya diwarnai oleh kecemasan sebelum akhirnya ia menghela napas. Ia mengisyaratkan agar aku mendekat lalu Adya kembali mendekatkan wajahnya ke telingaku untuk berbisik.

“Ada sebuah cerita yang melegenda di desa kami,” Adya memulai. “Cerita tentang Sang Aul, manusia berkepala anjing yang bertugas untuk menjaga hutan. Konon katanya, dulunya Sang Aul adalah seorang pendekar yang mempunyai ilmu kebal. Hingga suatu hari ia harus bertarung dengan seseorang yang berhasil memenggal kepalanya hingga putus.”

“Sang Aul tidak mati karena ilmu kebal yang ia miliki. Ia ingin memungut kembali kepalanya yang jatuh ke tanah. Namun, alih-alih kepalanya, Sang Aul malah memungut kepala anjing yang berada tak jauh dari kepalanya. Sang Aul memasang kepala anjing itu terbalik, menghadap ke belakang. Setelah itu ia menjelma menjadi siluman yang menjaga hutan.”

Aku menyimak Adya yang bercerita dengan serius. Ceritanya benar-benar di luar nalar. Itu lebih terdengar seperti sebuah dongeng daripada cerita legenda. Mana mungkin hal seperti itu benar-benar terjadi di dunia nyata.

Are you even listening?”

Aku menoleh pada Adya, “Oh, yes, I’m all ears. But, that’s…unbelieveable.

I’m not forcing you to believe it but I hope you would like to follow the rules.

Aku menyilangkan tangan di dada. “What rules?”

First, you can’t enter The Forbidden Forest, because The Aul lives there,” Adya mengacungkan jari telunjuknya ke arahku. “Second, you can’t do something bad to the forest. The Aul will get mad since he was The Forest Guard. And last, you can’t say his name loudly, he will now.

Why we can’t say his name loudly? Who is he? Voldemort?” ujarku sarkas.

Adya berdecak sebal, ia memutar bola matanya. “Just follow the rules. Can you?

Aku melirik sejenak ke arah hutan yang disebut Adya sebagai Hutan Larangan. Hutan itu nampak sama seperti hutan yang aku lewati saat perjalanan menuju ke desa ini. Aku yakin hutan itu sama seperti hutan-hutan lainnya. Warga desa ini sangat kolot, masih percaya pada mitos seperti itu. Cerita seperti itu hanya muncul dalam buku dongeng. That can’t be real.

Hello, I’m talking to you, Missy,” Adya melambaikan tangannya di depan wajahku. Can you follow the rules?

Yeah, sure. Why not.

 

***


"Kinanti! Kinanti, wake up!”

Seseorang mengguncang tubuhku dengan kuat. Aku mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke mataku. Pemandangan pertama yang aku lihat adalah Adya yang memasang wajah cemas, kedua tangannya terus mengguncang bahuku. Aku berusaha bangkit dari posisi berbaring kemudian Adya membantuku duduk.

Why did you sleep here?” Tanya Adya.

Aku terdiam sejenak, mataku menyapu ke segala penjuru. Tidak ada lagi pohon-pohon tinggi yang mengelilingiku. Tidak ada anjing liar yang hendak menerkamku. Juga tidak ada sosok berkepala anjing yang tadi bersamaku. Hanya ada aku dan Adya di lapangan tempat bermain anak-anak desa.

“Kinanti, you okay?”

Aku berhenti memperhatikan sekitar, mataku fokus pada Adya. Jelas-jelas tadi aku berada di tengah hutan, tersesat tak tahu jalan keluar. Aku bahkan hampir menjadi santapan anjing liar jika saja—benar, sosok itu. Sosok itu persis dengan apa yang Adya katakan soal Aul. Apa jangan-jangan sosok yang aku temui tadi benar-benar Sang Aul?!

“Adya, I think I’ve seen—

Your father is worry about you! He asked me to looking for you! Where have you been?! Why did you sleep here?!

Aku sedikit tersentak karena Adya tiba-tiba membentakku. Ekspresi cemasnya perlahan berubah jadi ekspresi marah dan kesal, sesuatu yang tidak aku sangka. Kupikir dia bukan tipe orang yang mudah marah karena ia selalu tersenyum tapi ternyata aku salah.

Bahu Adya naik turun dikuasai oleh emosi. Ia menghela napas sejenak kemudian berdiri sambil mengulurkan tangannya padaku. “Let’s get back, it will be dark soon.”

Aku tidak memiliki keberanian untuk membantah Adya. Ia terasa berbeda dengan Adya yang biasa menggodaku. Aku meraih tangan Adya lalu berdiri. Adya menuntunku pergi meninggalkan lapangan tanpa sepatah kata apapun keluar dari mulutnya.

Aku menoleh ke belakang, memperhatikan barisan pepohonan yang merupakan batas antara Desa Damai dengan Hutan Larangan. Tadi siang aku benar-benar masuk ke sana untuk mencari Ayah tapi kenapa aku malah berakhir terbangun di lapangan desa? Benar-benar tidak masuk akal!

Aku melirik pada Adya. Jika aku memberitahunya soal sosok itu…apakah Adya akan percaya? Atau, Adya malah balik meledekku karena sebelumnya aku bilang sosok Aul hanyalah mitos? Ya, tentu saja aku belum percaya sepenuhnya soal Aul, tapi aku benar-benar tidak bisa menemukan jawaban kenapa aku bisa berhasil keluar dari hutan.

What if…The Aul helped me?

Adya bilang kalau Aul itu sosok yang baik. Mungkin saja aku benar-benar bertemu dengan Sang Aul! Tapi Adya juga bilang kalau Aul tidak sudi menampakkan dirinya ke sembarang orang. Masa sih Aul mau repot-repot menampakkan dirinya di hadapanku?

Lamunanku buyar ketika aku mendengar suara riuh orang-orang. Ada sekumpulan orang yang berkumpul di depan Balai Desa. Kelihatannya mereka tidak berkumpul untuk bermusyawarah, ekspresi wajah mereka jauh dari kata bersahabat. Mereka berteriak memanggil Pak Subagyo di depan Balai Desa. Apa yang sedang terjadi di sini?

“Kinanti, kamu langsung pulang ke rumah ya. Ayahmu pasti sudah menunggumu,” ujar Adya, wajahnya diliputi kecemasan. Ia langsung pergi menuju kerumunan orang itu tanpa menunggu balasan dariku.

Aku menuruti perkataan Adya. Meski begitu, aku tetap curi-curi pandang ke arah kerumunan orang itu.  Aku hanya perlu berjalan beberapa langkah untuk sampai ke rumah karena rumahku bersebelahan dengan Balai Desa. Teriakan orang-orang masih terdengar jelas dari sini. Kuharap apapun yang sedang terjadi di sana, bukanlah hal yang serius.

Namun, aku melihat hal yang janggal di depan rumahku. Aku melihat Kakek Darmo duduk di tangga rumahku. Beliau terlihat sama seperti pertama kali aku melihatnya, memakai pakaian berwarna hitam dengan keris terikat di pinggangnya.

Kakek Darmo berdiri begitu melihatku. Aku berhenti sejenak, entah kenapa aku selalu takut ketika bertemu Kakek Darmo. Ada sesuatu tentang pembawaannya yang membuatku segan padanya. Kuputuskan untuk tetap menghampiri beliau, toh niatku memang pulang ke rumah.

Tos timana, Neng Geulis?”

Suaranya yang serak dan berat sedikit membuatku terkejut. Aku hanya bisa tersenyum canggung tanpa membalas ucapannya. Aku bahkan tidak benar-benar mengerti apa yang Kakek Darmo ucapkan.

Kakek Darmo menatapku cukup lama lalu terkekeh, “Oh, my bad. You can’t speak Sundanese, right?” Aku membalas dengan anggukan.

I see. Let me repeat my question, where have you been, pretty one?”

Aku merasakan sengatan aneh di tubuhku saat Kakek Darmo memanggilku ‘pretty one’. Rasanya geli mendengar panggilan itu dari seorang kakek tua. Namun, demi menjunjung sopan santun, aku memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya.

I was looking for my Dad, he said he went to the forest for some job. So, I decide to follow him…” jawabku jujur.

Kakek Darmo diam sejenak sambil mengelus janggutnya yang beruban. “You met him, right?”

Unfortunately, no. I was—

No, not your father. I mean… The Forest Guard.”

Aku melotot tidak percaya saat Kakek Darmo menyinggung soal Sang Penjaga Hutan. Aku bahkan belum sempat menceritakannya pada Adya. Bagaimana Kakek Darmo tahu kalau aku bertemu dengan Sang Aul di hutan? Apa jangan-jangan waktu itu Kakek Darmo juga berada di Hutan Larangan?

"I see,” Kakek Darmo tersenyum. You really met him.

Aku sempat memikirkan beberapa alasan untuk mengelak, tapi kurasa tidak ada gunanya jika aku berbohong pada Kakek Darmo. Beliau adalah tetua adat di desa ini, pasti beliau lebih tahu seluk-beluk desa ini daripada aku. Aku mengangguk perlahan, diam-diam waspada pada sikap Kakek Darmo selanjutnya.

Did he say something to you?” tanya Kakek Darmo.

Aku menggeleng, “Aku tersesat di hutan saat berusaha mencari Ayahku tapi aku malah tersesat dan masuk wilayah Hutan Larangan. Aku hampir diterkam oleh anjing liar tapi untungnya Sang Aul menolongku.”

He…helped you?”

Aku mengangguk kemudian melanjutkan ceritaku. “Sang Aul mengatakan sesuatu yang membuat anjing itu pergi. Aku sempat menatapnya sejenak tapi tiba-tiba saja aku malah terbangun di lapangan dekat Hutan Larangan. Adya menemukanku di sana.”

Kakek Darmo kembali terdiam sambil mengusap janggutnya. Aku menunggu jawaban dari Kakek Darmo dengan was-was. Namun, sebelum Kakek Darmo bicara, Ayah muncul dari dalam rumah dan bergegas turun begitu melihatku di halaman rumah.

Ayah langsung memelukku erat, aku juga balas memeluknya. Ayah mencium dan mengusap puncak kepalaku berkali-kali lalu kembali memelukku. Ayah baru melepaskan pelukannya setelah beberapa saat, Ayah menatapku dengan mata yang berair.

“Kamu bikin Ayah khawatir.”

Aku hanya bisa tersenyum. Aku tidak mungkin bercerita tentang pengalamanku bertemu dengan Sang Aul pada Ayah, bisa-bisa Ayah menganggapku gila. Aku melirik Kakek Darmo yang sejak tadi hanya diam memperhatikan kami. Ayah mengikuti arah pandangku kemudian tersenyum canggung dan menunduk pada Kakek Darmo.

“Maaf, saya tidak menyadari Anda ada di sini.” Ujar Ayah canggung.

“Tidak apa-apa,” Kakek Darmo mengibaskan tangannya. “Anda sudah selesai berkemas?”

 Sebelah alisku terangkat sementara Ayah mengangguk menanggapi pertanyaan Kakek Darmo.  Aku menoleh pada Ayah, “Berkemas? Kenapa Ayah berkemas?”

Ayah memegang pundakku, “Kita harus pulang sekarang, Kinan.”

“Pulang? Bukannya Ayah bilang kita akan tinggal di sini selama sebulan?” Tanda tanya besar muncul di kepalaku begitu mendengar jawaban Ayah.

“Perubahan rencana, kita harus pulang sekarang.”

“But why? Can you just say the reason?”

Kakek Darmo berdeham dan maju memisahkan aku dan Ayah. Ini aneh, tidak biasanya Ayah dipindahtugaskan semendadak ini. Kami bahkan belum genap seminggu tinggal di desa ini. Kenapa tiba-tiba kami harus pergi?

“Ayahmu benar, kalian harus pergi,” ujar Kakek Darmo. “Sebelum warga beralih merusuh ke mari.”

Ayah menarikku masuk ke rumah. Koper dan barang bawaan kami sudah tertata rapi di ruang tamu, siap untuk diangkut. Ayah menyodorkan koper milikku dan sebuah tas ransel. Aku berusaha menerka-nerka apa yang sedang terjadi di sini. Warga yang marah, kami yang harus tiba-tiba pindah, aku berusaha menghubungkan benang merah untuk mencari jawaban.

“Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan Ayah?”

Ayah menoleh ke arahku, keringat mengucur di pelipisnya. Ayah menghela napas sejenak sebelum menghampiriku dan memegang pundakku. “Ayah ditugaskan untuk mengawasi pembebasan lahan di hutan wilayah Desa Damai. Hutan-hutan di sini akan dialihfungsikan menjadi wilayah industri minyak bumi. Pak Subagyo telah menyetujui semuanya, tapi…tapi sepertinya warga desa tidak menyetujui hal itu.”

Aku terdiam saat mendengar penjelasan Ayah. Jelas saja warga desa menolak keras hal itu, mereka pasti takut pada Sang Aul. Jika hutan-hutan itu dialihfungsikan, entah apa yang akan terjadi pada desa ini. Tunggu, apa hal ini ada hubungannya dengan aku yang bertemu Sang Aul? What if…The Aul mad at me?

Aku tersentak saat mendengar kegaduhan yang semula terdengar samar kini menjadi jelas. Kakek Darmo benar, cepat atau lambat, para warga pasti akan datang kemari.  Ayah menyadari bahwa situasi di desa semakin memanas. Kami tidak memiliki banyak waktu karena warga desa sudah mulai berkumpul di depan rumah mereka. Ayah menggendong tas besar berisi barang-barang penting dan menenteng sebuah koper, sementara aku membawa tas dan koper kecil milikku. Kami berjalan cepat menuju pintu belakang rumah, menghindari perhatian warga yang sudah mulai berkerumun.

"Kinanti, kita harus segera pergi, tapi tetap hati-hati. Jangan sampai ada yang melihat kita," bisik Ayah sambil memegang erat tanganku. Aku mengangguk, jantungku berdegup kencang. Aku mengikuti langkah Ayah dengan hati-hati.

Sementara itu, di luar rumah, aku melihat Pak Subagyo berdiri di tengah kerumunan yang semakin besar. Warga desa yang marah mulai berteriak dan mengancam, beberapa bahkan melontarkan kata-kata kasar ke arahnya. Mereka menuntut penjelasan tentang kesepakatan pembebasan lahan antara Pak Subagyo dengan Ayah.

Ayah menarikku agar menghiraukan kerumunan orang-orang itu. Hatiku sakit saat melihat Pak Subagyo dan Kakek Darmo yang sedang berusaha menenangkan kerumunan orang itu. Sudah ada perjanjian antara kepala desa dengan pemerintah pusat. Perjanjian itu tidak mungkin bisa dibatalkan begitu saja. Semuanya sudah terlambat.

Ayah terus menggenggam tanganku hingga kami keluar dari desa. Aku melihat mobil kami terparkir di jalanan berbatu, dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi. Ayah membuka bagasi mobil dengan terburu-buru, menyimpan koper dan tas dengan asal. Aku melakukan hal yang sama kemudian naik ke mobil, mengisi bangku penumpang.

Ayah menyusul dan langsung menyalakan mobil. Ayah menginjak pedal gas dalam-dalam, berusaha meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Jalanan yang berbatu membuat perjalanan kami penuh dengan guncangan. Butuh waktu hampir setengah jam hingga akhirnya jalanan berbatu tergantikan dengan jalanan tanah yang mulus.

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku bersandar, berusaha menenangkan detak jantungku yang menggila. Aku melirik Ayah yang fokus menyetir, keringat masih mengucur deras di pelipisnya. Aku memalingkan wajah ke luar jendela, memandang pepohonan yang serasa mengejarku. Lalu, aku melihatnya.

Sosok pria bertubuh tegap yang sedang menyembunyikan dirinya di balik pepohonan. Sosok berkepala anjing yang melegenda di desa Damai itu kini sedang menatap ke arahku. Aku bisa melihat kilatan api yang berkobar di matanya, penuh dengan amarah. Aku segera memalingkan wajah, tidak mau bertatapan terlalu lama dengan sosok itu.

Setelah beberapa saat, aku berusaha memberanikan diri mencari sosok itu di antara pepohonan. Namun, ia menghilang bagaikan debu yang ditiup angin. Sosoknya tak terlihat dimana pun.

Aku menelan ludah, akankah aku menerima murka dari Sang Aul?

***

Sudah 10 tahun berlalu sejak aku meninggalkan desa kecil itu dengan hati yang berat. Desa yang terletak di kaki gunung, dikelilingi hutan hijau yang terbentang luas. Desa yang menyimpan legenda tentang pelindung hutan yang disebut Sang Aul. Kini, setelah sekian lama, aku kembali ke desa itu, namun bukan untuk sekadar mengenang masa lalu.

Berita tentang bencana longsor yang menghancurkan sebagian besar desa itu membuat hatiku tergerak. Media cetak serta media online banyak memberitakan mengenai bencana alam tersebut. Menurut sumber yang kubaca, longsor itu terjadi akibat habisnya pohon-pohon yang semula menjaga tanah di sekitar desa. Namun, warga desa membantah hal itu.

Mereka mengatakan bahwa bencana itu bukanlah sebuah kejadian alam biasa. Mereka percaya bahwa itu adalah akibat dari kemarahan Sang Aul, sang penjaga gunung yang dipercaya oleh nenek moyang mereka.

Aku tiba di desa dengan perasaan campur aduk. Rumah-rumah panggung yang dulu berdiri kokoh kini rata dengan tanah. Aku memasuki sebuah tenda pengungsian, hatiku semakin sakit begitu melihat banyak orang yang kehilangan tempat tinggal mereka.

Aku mengenali salah seorang di antara warga desa. Ia sibuk membagikan selimut kepada para pengungsi sambil berusaha menenangkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja. Hingga akhirnya ia melihat ke arahku. Aku melambai padanya dengan senyum yang canggung, aku ragu dia masih mengingatku.

Ia berjalan mendekat ke arahku, “You…you’re Kinanti, right?”

Aku mengangguk, tersenyum lebar padanya. “Long time no see, Adya.”

Adya mengajakku untuk mengobrol di luar. Adya tidak banyak berubah, masih sama dengan senyuman lebarnya yang penuh semangat, juga kulitnya yang kecoklatan. Sekilas, ia terlihat seperti ayahnya, Pak Subagyo.

“Apa yang membuatmu kembali?”

Aku sudah bisa memperkirakan kalau Adya akan menanyakan hal itu. “Jujur saja, aku merasa bersalah.”

“Bukan salahmu,” Adya membantah. “Mungkin lebih tepat jika hal ini terjadi karena orangtua kita, those old men.”

Aku tersenyum getir mendengar jawaban Adya. Mungkin ia ada benarnya. Tapi tetap saja, perasaan itu terus menghantuiku selama beberapa tahun terakhir. Terlebih tentang legenda itu, tentang Sang Aul.

Setelah mengobrol selama beberapa saat, Adya pamit untuk membagikan makanan pada para pengungsi. Adya sempat mengajakku untuk ikut, namun aku menolaknya. Aku tidak punya keberanian untuk berhadapan dengan warga desa yang lain. Aku memilih untuk berjalan-jalan di sekitar area pengungsian.

Pohon-pohon yang semula mengelilingi desa itu lenyap. Tanah-tanah subur desa berubah menjadi gersang, tidak dapat ditumbuhi oleh tumbuhan apa pun. Rasa bersalah kembali muncul di hatiku. Aku hanya bisa berandai-andai, apa semua hal ini tidak akan terjadi jika aku dan Ayah tidak datang ke desa ini?

Nasi sudah menjadi bubur. Sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa diulang kembali.

Aku menghela napas. Aku membiarkan angin memainkan rambutku. Aku mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahku, mungkin Adya telah selesai membagikan makanan pada para pengungsi. Aku berbalik. Tidak, ia bukan Adya, melainkan sosok berkepala anjing yang sering dianggap legenda belaka itu kini sedang menatap lurus ke arahku.

“Looking for me, Young Lady?”

***

Komentar

Postingan Populer